Memacu Adrenalin di Pantai Sorake, Pulau Nias

pantai sorake

Kalau soal pantai dengan ombak paling menantang untuk dikendarai di Indonesia, peselancar pasti dengan segera menyebutkan dua nama pantai, yaitu Pantai Lagundri dan Pantai Sorake di Pulau Nias. Ya, keduanya memang merupakan tujuan peselancar dunia memacu adrenalin di atas papan selancar, kedua setelah Hawaii.

Sejarah dan Kondisi Pantai Sorake

Sebelum penemuan Pantai Lagundri dan Pantai Sorake, Pulau Nias, oleh Kevin Lovett dan John Giesel pada tahun 1975, hampir tak ada wisatawan yang bertandang ke Nias. Satu-satunya pengunjung Pulau Nias adalah para arkeolog yang datang untuk mempelajari budaya megalitik kuno dan tradisinya.

Setelah dikenal sebagai surga berselancar, pertumbuhan ekonomi di desa-desa di sekitar Pantai Lagundri dan Pantai Sorake tumbuh dengan pesat. Tak berapa lama kemudian muncul restoran, tempat-tempat hiburan, dan tempat-tempat menginap, walaupun bukan yang mewah dan tipe berbintang.

Meski begitu, budaya dan tradisi Nias tetap bertahan dan dipertahankan keasliannya meskipun ada pengaruh yang datang dari luar daerah.

Nias beberapa kali diserang oleh gempa dan tsunami. Yang pertama adalah gempa sebesar 9.2 skala Richter tahun 2004 yang membawa tsunami di Aceh, ternyata juga sempat merusak Nias.

Serangan kedua yang cukup besar adalah gempa tahun 2005 sebesar 8.7 skala Richter yang paling merusak Nias. Banyak korban berjatuhan, dan butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi hingga kembali seperti semula.

Kedua gempa tersebut membawa perubahan pada struktur permukaan bumi di Pulau Nias. Garis pantai maju sekitar 50 meter ke arah daratan di beberapa tempat.

Selain itu, beberapa tempat mengalami penurunan permukaan dan menjadi tenggelam ke dasar laut, sedangkan beberapa bagian lain justru naik ke permukaan laut. Inilah mengapa di sepanjang garis pantai, Anda tak akan menemukan pasir pantai, melainkan bebatuan.

Pantai Sorake terkenal dengan ombak yang tinggi dan kuat. Ketinggian gelombangnya bisa mencapai 3 – 5 meter. Bahkan kalau sedang dalam kondisi terbaik, gelombangnya bisa mencapai 15 meter yang bisa terjadi pada sekitar bulan Juni – Juli.

Kondisi ini tentu saja menantang para peselancar profesional untuk ramai-ramai menaklukannya. Ada lima tingkatan gelombang yang terjadi, dan hal ini sangat langka lho. Biasanya pantai-pantai paling banyak hanya mempunyai tiga tingkatan gelombang.

Mengapa hal ini bisa terjadi di Pantai Sorake? Hal ini tak lain karena posisi pantai yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Jika Anda ingin mencoba berselancar, Anda tak perlu berenang ke tengah laut. Anda hanya perlu berjalan di sepanjang garis pantai, lalu berenang selama sekitar 2 – 3 menit ke arah laut.

Selanjutnya Anda hanya perlu menunggu gelombang yang datang. Jika Anda beruntung, Anda dapat menemukan gelombang favorit para peselancar profesional, yaitu gelombang dengan rongga di dalamnya di mana Anda bisa melewatinya sambil berselancar.

Saat akhir pekan dan hari libur, pantai akan penuh dengan wisatawan lokal. Mereka biasanya hanya menikmati keindahan pantai dari kejauhan. Ada juga beberapa dari mereka mencoba untuk belajar berselancar.

Nah, jika Anda ingin bertemu gelombang terbaik di Pantai Sorake, Anda dapat datang sekitar Juni-Juli. Anda tidak akan menyesal karena di bulan-bulan tersebut cuaca sangat baik dan gelombang airnya kuat dan tinggi.

Keunikan lain dari ombak di Pantai Sorake adalah bahwa gelombang-gelombang yang terjadi tersebut tidak tergantung arah angin dan air pasang.

Lokasi Pantai Sorake

Pantai Sorake berlokasi di Desa Botohilitano, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Pantai ini bersebelahan dengan Pantai Lagundri, malah keduanya berbagi teluk yang sama. Lokasinya sendiri cukup jauh dan terpencil.

Jika Anda ingin datang ke pantai ini, Anda akan membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk bisa tiba di sana. Namun, kondisi ini malah justru membuat kedua pantai yang sangat eksotis dan masih asli ini menjadi tempat favorit bagi para peselancar, baik yang sudah profesional ataupun yang masih pemula.

Ada dua cara alternatif untuk mencapai Pulau Nias, yaitu oleh laut dan transportasi udara. Jika Anda memilih transportasi laut, Anda harus menempuh jarak sejauh 160 kilometer, atau sekitar 12 jam dengan feri dari Kota Sibolga, Sumatera Utara ke Pelabuhan Bislig. Gunungsitoli adalah satu-satunya kota besar di Pulau Nias. Dari Bislig ke kotanya, Anda harus menempuh waktu sekitar 4 jam dengan mobil.

Jika Anda memilih memanfaatkan transportasi udara, akan memakan waktu sekitar 1 jam dari Bandara Polonia di Kota Medan, Sumatera Utara ke Bandara Binaka. Bandara Binaka terletak di sekitar 20 km sebelah selatan dari Bislig, Pulau Nias. Dari Bandara Binaka, Anda dapat menyewa mobil menuju ke Teluk Dalam, dan harus menempuh perjalanan selama 4 jam.

 

Pantai Sorake

(0.5986796155106554, 97.6952576637268)

Akomodasi Pulau Sorake

Berbeda sedikit dengan Pantai Lagundri yang tidak terlalu banyak terdapat losmen, akomodasi di Pantai Sorake ini cukup lengkap. Anda bisa menemukan banyak rumah tinggal, hotel dan pondok di mana Anda bisa menyewa kamar untuk menginap.

Di Sorake, Anda juga akan menemukan salah satu desa tradisional yang terkenal, yaitu Desa Bawomataluo di Kecamatan Fanayama, yaitu sekitar 30 menit ada dari Sorake. Di desa ini, Anda dapat menikmati berbagai atraksi kebudayaan setempat, seperti tarian perang, dan juga Fahombo yaitu tradisi lompat batu yang tersohor.

Ada banyak fotografer dan videografer di Pantai Sorake yang dapat Anda sewa jasanya jika Anda ingin mengabadikan liburan Anda di sana. Mereka bisa merekam aksi Anda saat Anda sedang menaklukkan ombak. Untuk layanan ini, Anda harus membayar sekitar IDR1,500,000 atau US $ 155 untuk 100 gambar. Biasanya para fotografer dan videografer ini dapat Anda temui pada sekitar pukul 07.00 – 11.00 dan 16.00-18.30.

Sumber